Persembahan Dari Tanah Papua

Posted: February 26, 2013 in Edisi 1, Hangus

 

“Diru diru nina ooo aaa sawape diru nina nina nina ooo……..”

Pernahkah kamu membaca lirik lagu seperti itu? Atau kamu merasa asing? Lirik lagu tersebut adalah petikan dari lagu pengiring Tari Yospan asal Papua. Tari Yospan kini sudah banyak dimiliki oleh sekolah atau universitas terkemuka di Indonesia. Sebenarnya apa siih Tari Yospan itu? Simak yuk!

Tari Yospan atau Tari Yosim Pancar merupakan hasil penggabungan dua tarian rakyat atau pergaulan dari Papua, yaitu Yosim dan Pancar. Yosim sendiri adalah tarian tua asal Sarmi, yaitu suatu kabupaten dekat pesisir utara Papua, namun ada juga yang bilang Yosim berasal dari Waropen. Sedangkan Pancar adalah tarian dari Biak-Manokwari pada awal 60an. Nama Pancar sendiri terinspirasi saat warga Papua terkesima melihat pancaran gas yang berasal dari pesawat tempur yang melintasi angkasa Biak.

Tari Yospan terdiri dari dua tim, beberapa pasang penari dan musisi. Gerakan Yospan sangat lincah, enerjik, dinamik dan penuh semangat dikoreografikan oleh Arnold C. Ap dan rekannya dalam kelompok Mambesak. Jenis gerakannya beragam ada Pancar Gas, Gale-Gale, Jef, Pacul Tiga dan lain-lain.

Kostum para penari tiap sanggar berbeda, namun biasanya untuk perempuan menggunakan pakaian berwarna mencolok yang longgar agar mudah bergerak, sedangkan laki-laki hanya menggunakan rumbai-tumbai sebatas pinggang hingga paha serta badan yang dicat warna merah dan putih dengan pola tertentu. Dilengkapi aksesoris khas Papua seperti hiasan kepala dari bulu burung Cendrawasih, gelang, kalung, maupun rumbai-rumbai pada kaki yang menambah kesan Papua.

Selain itu, keunikan tarian ini terdapat dalam perangkat musik yang digunakan sebagai pengiringnya. Seperti gitar dan ukulele yang berasal dari luar Papua. Tifa, sejenis alat musik pukul mirip Djimbe, namun kulitnya terbuat dari kulit biawak. Serta alat musik yang berfungsi sebagai bas dengan tiga tali. Tali tersebut terbuat dari lintingan serat mirip daun pandan yang banyak terdapat di pesisir Papua.

Kini Yospan sudah sering dipertunjukan diberbagai acara dalam maupun luar negri. “Tari tradisional sudah mulai dimunculkan kembali tapi belum terlalu mendapat dukungan dari pemerintah”, ujar Ibu Evi, salah satu pengurus sanggar Padu Raksa saat ditemui usai acara penutupan ulang tahun Taman Mini Indonesia Indah. Ditemui ditempat berbeda, Devi salah seorang penari Yospan mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk belajar menarikannya. “Iya, mudah kok asal intensif belajarnya, aku aja Cuma 2 bulan.” Ujarnya. Yuk! Kita belajar dan lestarikan tari Yospan serta kesenian tradisional lainnya! Kalu bukan kita, siapa lagi?

Penulis: Rizqy Rosmalawati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s