Jakarta Tidak Hilangkan Kesenian Angklung

Posted: February 1, 2013 in Edisi 1, Hangus

Jakarta (31/01/12)  Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat Sunda. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.

Dihiruk pikuk keramaian Jakarta ternyata kita bisa menemukan tempat kesenian angklung yaitu Bale Angklung Pasaraya yang dibuat oleh Saung Angklung Udjo atau disingkat SAU , didirikan oleh Udjo Ngalagena(alm) yang biasa dipanggil Mang Udjo dan isterinya yaitu Uum Sumiati. Mang Udjo dikenal sebagai pembuat angklung sejak tahun 1966 , yang didasarkan hobinya sendiri. SAU merupakan sanggar seni barat.SAU dibangun di atas sebuah landasan yang kuat dan dedikasi yang tinggi untuk melestarikan kebudayaan dan kesenian Sunda.

SAU memberikan gambaran yang cantik tentang keharmonisan diantara alam dan budaya, karenanya, tidaklah mengherankan apabila SAU kini berkembang menjadi sebuah tujuan pengalaman wisata budaya yang lengkap. Menjadi sebuah tempat untuk merasakan kebudayaan tradisional Indonesia sebagai bagian dari kekayaan warisan budaya dunia. Masalah lain adalah “hak paten”, agar kesenian angklung tidak menjadi milik bangsa lain , mungkin paten angklung ini bukan atas nama Udjo melainkan menjadi angklung milik Sunda.

Selain itu, seiring dengan pengakuan Angklung oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda asli Indonesia, Saung Angklung Udjo bekerjasama dengan Pasaraya menghadirkan Balé Angklung Pasaraya. Tempat ini diharapkan dapat menjadi wahana untuk mengenali, memahami, sekaligus mempelajari seni Angklung, serta membeli produk budaya tradisional Indonesia lainnya

Bale Angklung Pasaraya merupakan budaya Indonesia yang ekskulisif, dimana pengunjungnya mengenal dan melihat alat musik tradisional angklung. Tidak hanya itu pengunjung juga berkesempatan untuk membawa pulang dan membagi – bagi barang tersebut ke orang lain dengan harga yang terjangkau. Tempat ini juga diharapkan dapat menjadi wahana untuk memahami, mempelajari seni angklung, serta membeli produk budaya tradisional lainnya. Di Balé Angklung Pasaraya, pengunjung dapat mengikuti serangkaian program. Diawali dengan menonton video mengenai angklung, permainan merangkai angklung dan angklung interaktif.

Saung Angklung Udjo (SAU)  juga mendirikan yayasan dengan misi untuk menggembangkan dan melestarikan budaya tradisional dimasyarakat. Dengan fungsi untuk mempelajari dan mendalami angklung, mengembangkan kemampuan maupun melatih untuk memainkannya. Saung Angklung Udjo (SAU) merupakan sanggar angklung terbesar. Selain itu SAU juga menuntut anak anak untuk tampil dalam pertunjukan, usaha ini dilakukan untuk mendorong mereka tampil berani di depan masyarakat umum. Usaha ini dilakukan agar terlahirnya regenerasi baru di masa yang akan datang.

Produksi Angklung SAU sudah menerapkan standarisasi mutu, bekerja sama dengan Sucofindo, sejak dari penanaman (saat lingkar batang tertentu telah di capai, pohon bamboo dipotong, pada saat musim kering, karena pada saat kemarau, kelembaban rendah dan akan menghasilkan suara yang bagus)

SAU harus selalu mempunyai ide-ide segar, bagaimana membuat sebuah pertunjukan tidak monoton, dan memakai ide-ide kreatif. Di satu sisi para pemain angklung sebagian besar anak-anak bisa terlihat menyenangkan walau pelatihannya tidak mudah. Agar penonton juga tidak kecewa jika mereka keliru saat tampil. Karena malah terlihat lucu jika melakukan beberapa kesalahan kecil.

Setelah kunjungan kami ke Bale Angklung Pasaraya ternyata masih ada yang melestarikan budaya angklung dan memperhatikan keberadaannya sebagai alat musik tradisional. Maka dari itu kita sebagai anak bangsa juga wajib melestarikan alat musik tradisional angklung agar tetep hidup di Negara Indonesia dan tidak punah di telan zaman.

Penulis: Rendy Frebianto Pratama dan Muhammad Arief

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s