Taman Musik Rockin Friday

Posted: February 26, 2013 in Edisi 1, Event

 

Pesta musik rock mengguncang Kampus A Trisakti yang sudah kali ke-2 diselenggarakan. Acara yang mengusung tema “Rockin Friday The 13th” ini dipersembahkan Radio 104,2 MS TRI FM. Musik Taman yang ke-2 ini menampilkan beberapa band rock papan atas ibu kota diantaranya Netral, Superglad, The Brandals, V Minuters, dll.

Tepat setelah break Maghrib, giliran Superglad yang membakar panggung. Sang vokalis yang kerap disapa Buluk nampaknya sedang tidak fit dan tanpa basa-basi langsung menggebrak dengan lagu “Gelagat Jahat” dengan aksi panggung yang sangat enerjik. 60 menit berselang giliran band Rock n Roll Jakarta The Brandals yang mengganti namanya menjadi BRNDLS dialbum terbarunya. Cukup fair karena mereka membawakan lagu-lagu lama dan barunya seperti “Obsesi Mesin Kota” dan “Perak” yang membuat penggemarnya bernyanyi dan berjingkrak semangat.

Tak mau kalah, giliran Netral memulai orkes rocknya dengan lagu “Cinta Gila” yang membuat area sekitar stage semakin padat. Lanjut dengan lagu baru “Dia” dan “Netralizer” membuat moshpit Netralizer sebutan fans Netral semakin liar. Lagi-lagi bisa kami tebak sebagai lagu andalan sekligus penutup yang ramai ketika euforia Timans Garuda Indonesi berada difinal Seagames, “Garuda Didadaku”.

V Minutes band yang menjadi penutup pagelaran musik rock dengan set akustiknya menggebrak dengan lagu “Aisyah”. Band asal Bandung itu tampak tetap interaktif dengan penggemarnya yang terbilang cukup banyak.

Penulis: Jawanda Sadzikrie, Bening Kusuma Antoko, Rendy Frebianto Pratama

Persembahan Dari Tanah Papua

Posted: February 26, 2013 in Edisi 1, Hangus

 

“Diru diru nina ooo aaa sawape diru nina nina nina ooo……..”

Pernahkah kamu membaca lirik lagu seperti itu? Atau kamu merasa asing? Lirik lagu tersebut adalah petikan dari lagu pengiring Tari Yospan asal Papua. Tari Yospan kini sudah banyak dimiliki oleh sekolah atau universitas terkemuka di Indonesia. Sebenarnya apa siih Tari Yospan itu? Simak yuk!

Tari Yospan atau Tari Yosim Pancar merupakan hasil penggabungan dua tarian rakyat atau pergaulan dari Papua, yaitu Yosim dan Pancar. Yosim sendiri adalah tarian tua asal Sarmi, yaitu suatu kabupaten dekat pesisir utara Papua, namun ada juga yang bilang Yosim berasal dari Waropen. Sedangkan Pancar adalah tarian dari Biak-Manokwari pada awal 60an. Nama Pancar sendiri terinspirasi saat warga Papua terkesima melihat pancaran gas yang berasal dari pesawat tempur yang melintasi angkasa Biak.

Tari Yospan terdiri dari dua tim, beberapa pasang penari dan musisi. Gerakan Yospan sangat lincah, enerjik, dinamik dan penuh semangat dikoreografikan oleh Arnold C. Ap dan rekannya dalam kelompok Mambesak. Jenis gerakannya beragam ada Pancar Gas, Gale-Gale, Jef, Pacul Tiga dan lain-lain.

Kostum para penari tiap sanggar berbeda, namun biasanya untuk perempuan menggunakan pakaian berwarna mencolok yang longgar agar mudah bergerak, sedangkan laki-laki hanya menggunakan rumbai-tumbai sebatas pinggang hingga paha serta badan yang dicat warna merah dan putih dengan pola tertentu. Dilengkapi aksesoris khas Papua seperti hiasan kepala dari bulu burung Cendrawasih, gelang, kalung, maupun rumbai-rumbai pada kaki yang menambah kesan Papua.

Selain itu, keunikan tarian ini terdapat dalam perangkat musik yang digunakan sebagai pengiringnya. Seperti gitar dan ukulele yang berasal dari luar Papua. Tifa, sejenis alat musik pukul mirip Djimbe, namun kulitnya terbuat dari kulit biawak. Serta alat musik yang berfungsi sebagai bas dengan tiga tali. Tali tersebut terbuat dari lintingan serat mirip daun pandan yang banyak terdapat di pesisir Papua.

Kini Yospan sudah sering dipertunjukan diberbagai acara dalam maupun luar negri. “Tari tradisional sudah mulai dimunculkan kembali tapi belum terlalu mendapat dukungan dari pemerintah”, ujar Ibu Evi, salah satu pengurus sanggar Padu Raksa saat ditemui usai acara penutupan ulang tahun Taman Mini Indonesia Indah. Ditemui ditempat berbeda, Devi salah seorang penari Yospan mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk belajar menarikannya. “Iya, mudah kok asal intensif belajarnya, aku aja Cuma 2 bulan.” Ujarnya. Yuk! Kita belajar dan lestarikan tari Yospan serta kesenian tradisional lainnya! Kalu bukan kita, siapa lagi?

Penulis: Rizqy Rosmalawati

Siapa yang nggak tau band superglad? Band yang digawangi oleh Agus Purnomo “Giox” (bass), Lukman Laksmana “buluk” (vokal/gitar), Frid Akbar “Abam” (drum), dan Dadi Yudistira “Berry” (gitar) telah meramaikan music tanah air dengan hits-hits yang dikeluarkannya. Namun diantara ke empat personil tersebut, terdapat satu personil yang memiliki peran penting bagi perkembangan music rock di Indonesia. Lukman laksmana alias buluk, sang vokalis.

Perjalanan music buluk dimulai sejak tahun 1988. Saat itu ia baru mulai mencoba bermain musik, dan seperti halnya anak muda lain yang banyak membentuk band, ia juga mulai membentuk grup band sendiri yang menurutnya hanya iseng-iseng belaka. Seiring berjalannya waktu, karena kecintaannya terhadap music, buluk mulai serius dalam menekuni bidang ini. Bersama dengan eka yang sekarang merupakan personil dari band d’brandals, ia membentuk sebuah band dengan nama waiting room. Tahun 1994 mereka merilis album pertamanya, “buaya ska”. Aliran music yang ia bawakan dalam band pertamanya ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan rock. Ska, ya, ska merupakan aliran yang mereka pilih saat itu. Namun tak bertahan lama, pada tahun 1996 waiting room vakum karena beberapa personilnya memutuskan untuk melanjutkan study ke luar negri.

Ditanya masalah aliran music, buluk yang kami temui selasa kemarin mengatakan, “kita Cuma mikirin aliran yang lagi trend saat itu, awalnya eka yang bawa trend itu dari luar”, ia juga menambahkan, “tapi karna yang namanya trend itu pasti ada masanya, makannya anak-anak waiting room mutusin untuk daripada Cuma ngikutin trend, mending mainin genre yang basicnya udah pada suka”, ungkapnya. Akhirnya pada tahun 2000 waiting room bubar.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, buluk memutuskan untuk tidak lagi hanya mengikuti trend yang ada dalam bermusik, “gue sih belajar dari pengalaman temen-temen yang udah duluan aja, mereka banyak yang nggak tahan lama, maksudnya mereka pasti ada masanya turun, jadi gue maunya terus stabil, bahkan kalo bisa naik terus, akhirnya gue milih aliran rock”.

Pada tahun 2002 terbentuklah superglad yang mengusung aliran music rock. Namun bukan hal yang mudah pula bagi buluk dan kawan-kawan untuk menembus industry music di Indonesia. Ada banyak pengorbanan yang mereka lakukan hingga akhirnya superglad dapat menjadi besar seperti ini, “kita awalnya ngelakuin semua sendiri, modal sendiri, sampe gue menggadaikan mobil gue ke emil ‘naif’ untuk rilis album pertama”, ucap vocalis kelahiran 7 april 1973 ini. Berkat kegigihannya, album pertama mereka rilis dan bisa dibilang menjadi pintu gerbang bagi superglad, karena sejak saat itu mulai banyak label music yang menawarkan kerjasama. Sejak saat itu pula music rock mulai naik daun di Indonesia.

Ditanya masalah pengalaman saat manggung, buluk mengaku memiliki banyak pengalaman lucu. Salah satunya yaitu sewaktu superglad manggung di aceh, daerah sabang dan lhokseumawe, saat mereka sudah naik ke atas panggung untuk perform, ternyata penonton yang datang terpisah antara penonton laki-laki dan perempuan, dan ternyata hal itu memang sengaja dilakukan oleh panitia, “wah itu gila! Dan lo tau sendiri music superglad kayak apa? itu bener-bener pengalaman sekali seumur hidup!”, ungkapnya.

 

Kecintaannya terhadap dunia music tidak hanya ia aplikasikan ke dalam band superglad saja. Diluar itu, buluk juga memiliki berbagai kegiatan yang tentunya tidak keluar dari jalur music, “kegiatan gue selain manggung bareng superglad, gue siaran acara music, terus gue juga suka disuruh bikin jingle iklan barengan sama riky ‘seringai’, kadang gue juga suka bantuin band-band baru yang butuh di aransemen lagunya”, ungkapnya, “terus kadang juga ada beberapa band yang minta bikinin lagu sama gue, yaudah gue bikinin. Gitu aja sih sampingan gue, tapi nggak pernah lepas dari music”, tambahnya.

Kesibukan buluk di dunia music bukan tanpa dasar. Ia merupakan lulusan sekolah music di royale music intitude, Australia dan juga Singapore music institude jurusan sound engineering. Tak heran, kesibukannya saat ini memang sudah jadi cita-citanya dari awal, maka ia melakukannya dengan sungguh-sungguh, “jadi, gembel-gembel gini gue insinyur, lulus pula.. haha!”, ungkapnya disertai dengan tawa. “kalo untuk alat music instrumental kayak gitar, bass, sama drum gue autodidak, karena dari kecil emang gue suka music”, lanjutnya. Buluk memang mengaku masih belajar sampai sekarang, sampai masanya superglad sedang naik daun, ia pun masih belajar dari para musisi yang sudah senior. Ia juga sempat terlibat dalam project melly goeslow dalam penggarapan soundtrack film AADC dan AAC, “yah gitu sih, gue di dunia ini bisa kayak gini karena dari awal orang-orang disekitar gue terutama keluarga gue itu ngedukung banget gue di music”, jelasnya.

Kalau ngomongin soal perkembangan musik di Indonesia, buluk memiliki pendapatnya sendiri. Menurutnya, yang paling mempengaruhi musik-musik sekarang justru media-media besar seperti tv swasta. Saat trend boyband sedang naik daun, seluruh tv swasta menayangkan boyband, hal yang sama terjadi saat trend melayu sedang merajai Indonesia, “jadi nggak dibikin variasi, ketika ada Rn’B, jazz, ada rock, ada reggae, yang akhirnya mereka nggak nongol-nongol, tapi justru yang nggak banyak nongol di tv justru jadwal off air nya gila-gilaan, liat aja kayak tony-q lah contohnya”, ucapnya. Buluk juga menambahkan, bahwa saat ini banyak sekali bermunculan musisi yang terkenal dengan cara yang instan, “kalo gue pribadi sih gue nggak penting jadi terkenal di Indonesia, buat gue adalah ketika karya gue diterima saat gue nyanyi, itu aja”, tambahnya. Mengatasi masalah musik di Indonesia, buluk memberi  masukan yang menurutnya dapat membantu memajukan industry ini, “ baiknya sih musik sekarang balik lagi kayak tahun 2000-an, contohnya waktu superglad lagi trend dengan musik rock, tapi musik lain tetep ada, kayak pop misalnya, tetep ada glenn fredly, yovie and nuno, reggae juga tetep ada, macem-macem deh pokonya, nggak kayak sekarang senada semua”, paparnya.

Pencapaian buluk sampai menjadi saat ini tak lepas dari perjuangan-perjuangan yang ia lakukan. Iapun kemudian memberi masukan-masukan yang ditujukan untuk generasi muda, terutama yang mempunyai ketertarikan di dunia musik, “menurut gua, buat masuk ke dunia musik, yang pertama harus dipegang tuh niat, jangan pernah nyerah, jangan pernah pesimis dengan aliran musik yang udah lo ambil, semua musik pasti ada masanya, pasti ada pendengarnya”, ucapnya semangat, “tinggal gimana caranya lo dikenal, dan pendengar-pendengar musik lo pasti keluar, mulai dari lo manggung di acara pensi/acara-acara kampus tanpa dibayar, superglad dua setengah tahun manggung tanpa dibayar Cuma buat memperkenalkan diri ke masyarakat”, tambahnya lagi. Buluk juga mengingatkan untuk tidak segan-segan membangun networking dengan media, dan jangan sungkan untuk minta tolong pada temen musisi yang sudah punya nama. Kalau sudah seperti itu, buluk yakin kalau memang generasi sekarang mau membuat sesuatu seperti band, band itu pasti akan jalan, “satu lagi, inget kalo musik itu nggak akan ada habisnya, teruslah berkreasi, buat suatu kreasi-kreasi baru, kalo perlu sampe akhir hayat lo”, tukasnya mengakhiri obrolan.

Penulis: Tri Nur Kamaliah

Jakarta (31/01/12)  Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat Sunda. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.

Dihiruk pikuk keramaian Jakarta ternyata kita bisa menemukan tempat kesenian angklung yaitu Bale Angklung Pasaraya yang dibuat oleh Saung Angklung Udjo atau disingkat SAU , didirikan oleh Udjo Ngalagena(alm) yang biasa dipanggil Mang Udjo dan isterinya yaitu Uum Sumiati. Mang Udjo dikenal sebagai pembuat angklung sejak tahun 1966 , yang didasarkan hobinya sendiri. SAU merupakan sanggar seni barat.SAU dibangun di atas sebuah landasan yang kuat dan dedikasi yang tinggi untuk melestarikan kebudayaan dan kesenian Sunda.

SAU memberikan gambaran yang cantik tentang keharmonisan diantara alam dan budaya, karenanya, tidaklah mengherankan apabila SAU kini berkembang menjadi sebuah tujuan pengalaman wisata budaya yang lengkap. Menjadi sebuah tempat untuk merasakan kebudayaan tradisional Indonesia sebagai bagian dari kekayaan warisan budaya dunia. Masalah lain adalah “hak paten”, agar kesenian angklung tidak menjadi milik bangsa lain , mungkin paten angklung ini bukan atas nama Udjo melainkan menjadi angklung milik Sunda.

Selain itu, seiring dengan pengakuan Angklung oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda asli Indonesia, Saung Angklung Udjo bekerjasama dengan Pasaraya menghadirkan Balé Angklung Pasaraya. Tempat ini diharapkan dapat menjadi wahana untuk mengenali, memahami, sekaligus mempelajari seni Angklung, serta membeli produk budaya tradisional Indonesia lainnya

Bale Angklung Pasaraya merupakan budaya Indonesia yang ekskulisif, dimana pengunjungnya mengenal dan melihat alat musik tradisional angklung. Tidak hanya itu pengunjung juga berkesempatan untuk membawa pulang dan membagi – bagi barang tersebut ke orang lain dengan harga yang terjangkau. Tempat ini juga diharapkan dapat menjadi wahana untuk memahami, mempelajari seni angklung, serta membeli produk budaya tradisional lainnya. Di Balé Angklung Pasaraya, pengunjung dapat mengikuti serangkaian program. Diawali dengan menonton video mengenai angklung, permainan merangkai angklung dan angklung interaktif.

Saung Angklung Udjo (SAU)  juga mendirikan yayasan dengan misi untuk menggembangkan dan melestarikan budaya tradisional dimasyarakat. Dengan fungsi untuk mempelajari dan mendalami angklung, mengembangkan kemampuan maupun melatih untuk memainkannya. Saung Angklung Udjo (SAU) merupakan sanggar angklung terbesar. Selain itu SAU juga menuntut anak anak untuk tampil dalam pertunjukan, usaha ini dilakukan untuk mendorong mereka tampil berani di depan masyarakat umum. Usaha ini dilakukan agar terlahirnya regenerasi baru di masa yang akan datang.

Produksi Angklung SAU sudah menerapkan standarisasi mutu, bekerja sama dengan Sucofindo, sejak dari penanaman (saat lingkar batang tertentu telah di capai, pohon bamboo dipotong, pada saat musim kering, karena pada saat kemarau, kelembaban rendah dan akan menghasilkan suara yang bagus)

SAU harus selalu mempunyai ide-ide segar, bagaimana membuat sebuah pertunjukan tidak monoton, dan memakai ide-ide kreatif. Di satu sisi para pemain angklung sebagian besar anak-anak bisa terlihat menyenangkan walau pelatihannya tidak mudah. Agar penonton juga tidak kecewa jika mereka keliru saat tampil. Karena malah terlihat lucu jika melakukan beberapa kesalahan kecil.

Setelah kunjungan kami ke Bale Angklung Pasaraya ternyata masih ada yang melestarikan budaya angklung dan memperhatikan keberadaannya sebagai alat musik tradisional. Maka dari itu kita sebagai anak bangsa juga wajib melestarikan alat musik tradisional angklung agar tetep hidup di Negara Indonesia dan tidak punah di telan zaman.

Penulis: Rendy Frebianto Pratama dan Muhammad Arief

Anak-anak pinggiran Jakarta usia belasan menabuh rebana dan gendang Jimbe, permainan bass, gitar, drum ‘ala kadar’ serta tiupan suling menambah keindahan alunan music. Seorang anak perempuan dengan suara yang tinggi melantunkan lagu dengan lantang.

Mereka mengenakan kaos warna hitam bertuliskan “Roda”. Roda adalah sanggar perkusi yang beranggotakan 15 anak pinggiran Jakartan, tepatnya berdomisili disamping terminal Pulo Gadung, Jakarta Timur. Walau hanya dibekali peralatan music tradisional seperti angklung, rebana, gong kecil, gendang serta instrument elektrik lainnya, namun harmoni nada yang tercipta membuat seorang musisi handal sekalipun pasti akan mengancungkan jempol.

BERISIK berkesempatan untuk mengobrol kepada Winda (48) yang biasa disapa ibu winda adalah pembimbing sanggar roda sejak sanggar ini dibangun 10 tahun lalu. Lalu saya bertanya bertanya apa yang menyebabkan mereka begitu ceria? Bahkan setiap lagu demi lagu, bait demi bait yang mereka sajikan seperti dilakukan tanpa beban, padahal mereka semua berasal dari kaum marginal yang tumbuh dan besar di jalanan? Dan ia menjawab, salah satu alasan mengapa mereka semua terlihat kompak dan riang, selain karena usia muda, juga rasa bangga dalam diri karena mereka dibimbing untuk mandiri tidak hanya dibidang musik.

“Kesenian itu belum dihargai di Indonesia, jadi mereka haru punya backup yaitu menimba ilmu pengetahuan setinggi-tingginya, agar kelak selain memiliki batu pijakan dibidang music, mereka sudah memiliki karir sesuai disiplin ilmu yang mereka tempuh”, ungkap ‘IBU’

Sejak sanggar ini dibangun 10 tahun lalu, dan sekarang sudah angkatan ke tiga merka masih mengusung tema tradisional dan lagu-lagu andalannyapun rata-rata lagu-lagu daerah yang diaransemen ulang seperti manuk dadali, kicir-kicir, jail-jali, dan masih banyak lagi. Setelah di singgung kenpa masih mengusung tema tradisional, winda menjawab “keahlian mereka memang disini, sebenarnya ada lagu-lagu lain tapi kami trut prihatin aja sama kebudayaan Indonesia yang udah ditinggalkan oleh orang banyak”.

“Walauun mereka sering dicemooh oleh rekan-rekan mereka, ada yang bilang geng Tabok ada juga yang bilang geng Topeng Monyet, namun kita tekankan kepada mereka bahwa kalian sendiri yang menentukan apapun yang kalian mau di masa yang akan datang dan kami akan membantu sekuat tenaga mewujudkan mimpi-mimpi mereka,” ungkap Winda.

 

Penulis: Sinar Putri Suci Utami

Tahu dong mainan gameboy? Pernah dong kamu main gameboy? Tahukan kamu kalau di gameboy itu ada bunyi musik video gamesnya? Nah! Ternyata dari musik di gameboy tersebut dapat menghasilkan suatu genre musik, yang kita kenal dengan musik electro. Musik eloctro sendiri banyak jenis loh! Salah satunya, chiptune.

Di Indonesia sendiri chiptune mulai menampakan diri tahun 2006. Bermula dari musisi-musisi kita yang bereksperimen dengan musik. Ternyata musik chiptune langsung mempunyai penggemarnya tersendiri sehingga terbentuklah sebuah komunitas chiptune pertama dan terbesar di Indonesia, yaitu Indonesian Chiptune pada 2007.

Salah satu musisi Indonesia yang mengusung musik Chiptune dan tengah melebarkan sayapnya adalah DYZTRK. Nama yang dipilih duo chiptuners ini sebetulnya berasal dari kata “distract” yang berarti mengganggu. Ternyata selain mengganggu mata dengan keunikannya juga sukses ‘mengganggu’ telingga kita dengan musiknya dari tahun 2007 ini rupanya sudah cukup terkenal dan berkualitas loh. Terbukti mereka sudah pernah menginjakkan kaki diatas panggung Java Jazz Festival tahun 2009 lalu, tak hanya itu 2011 mereka juga sempat meramaikan Java Soulnation loh.

Saat diwawancara melalui BBM, mereka mengaku cukup kerepotan saat melakukan persiapan untuk unjuk gigi didepan audience karena banyaknya peralatan yang mereka pakai. Karena selain menggunakan Nitendo Gameboy DMG-01 yang dilengkapi dengan software LSDJ mereka juga memakai Roland SP-606 dan Sp-404 untuk efek filter, Korg Kaoss Pad 3 untk efek delay dan filter, serta Korg Kaossilator Pro & Korg Mini-KP untuk sound effect seperti noise & synth. Kebayang dong ribetnya mereka gimana? Kebayang juga dong kerennya aksi mereka?

Dalam bermusik, Aldhan yang bergabung di Storia dan Caesar yang juga bergabung di Soulvibe mengaku mendapat influence dari Jaka a.k.a JW86 salah satu pelopor chiptuner Indonesia dan Xinon dari Jepang, mereka juga mendengarkan Daft Punk dari Perancis, Kraftwerk dari Jerman dan YMO dari Jepang yang musiknya danceable.

Buat temen-temen yang penasaran dengan musik mereka, kamu bisa mendengarkan lagu-lagu yang dicover Caesar dan Aldhan di soundcloud.com/dyztrk. Selain cover lagu, kamu juga bisa mendengarkan lagu mereka sendiri yang judulnya DYZKO, Wishing, Main Itu Hidup Hidup Itu Main, Can’t Live Without You dan yang terbaru Microdane. Tapi kalau kamu mau otodidak belajar chiptune seperti mereka, DYZTRK ngasih bocoran resep rahasiannya nih. Kamu bisa belajar melalui Youtube, Google atau bergabung dengan komunitasnya. Kamu juga bisa mempelajari software yang mereka pakai di littlesounddj.com loh. Simple kan? Selamat berkarya!!

Penulis: Fitri Puri Chandra, Maria Karlita S, Karlan Apriansyah